Laman

Cerita keseharian

STORY ABOUT ME

Sabtu, 04 Oktober 2014

Camping at Gunung Gede Pangrango

Perjalanan kali ini adalah ke Gunung Gede Pangrango. Acara ini diprakarsai oleh Mas Zaenal dan Mba Ellysa senior di Wapeala Undip. Mba Ellysa berniat mendaki Gn.Gede bersama teman-teman Wapeala, sehingga persiapan dilakukan sebulan sebelumnya karena harus mendaftar online. Sedangkan tim keluarga (tim hore) hanya camping di bumi perkemahannya saja.
Perjalanan dimulai dari Cilegon jumat 26 september 2014 jam 7 malam agar bisa ketemu rombongan di Rest area cibubur jam 22.00 agar bisa beriringan ke Cibodas. Sampai Tol karang Tengah masih lancar tetapi ketika  menuju tol Meruya ke arah Pondok Indah, jalanan mulai macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit. Sangat melelahkan jalanan penuh dengan truk-truk besar menuju gerbang tol Meruya. Hampir 1 jam keluar tol karang tengah menuju gerbang tol Meruya. Setelah melewati gerbang tol Meruya, perjalanan mulai lancar kembali. Sampai akhirnya sampai jam 22.30 di Rest Area Cibubur bersamaan dengan mobil Mas Zaenal bersama dengan Mba Ellysa, Mba Zakiyah, Ranu, Lang Lang, dan sopir.
Perjalanan dilanjutkan lewat tol ke arah Bogor. Sampai di pertigaan tol ke arah Taman Safari dan Cianjur, kami terpisah walaupun akhirnya sampai di pertigaan Ciawi kami belok kiri terus dan sampai di Pertigaan Mesjid besar ke arah Taman safari. Perjalanan dilanjutkan melewati Taman Safari Indonesia, melewati Puncak Pass- Ciloto-Cibodas. Akhirnya sampailah di pertigaan Bumi Wisata Gede Pangrango, lalu kami melewati jalan kecil agak rusak menuju lokasi Taman Wisata Gede Pangrango jam 02.00 hari sabtu. Ternyata teman-teman lain sudah menunggu di warung-warung yang berfungsi sebagai tempat istirahat para pendaki juga. Banyak sekali warung-warung dan tempat penduduk yang dijadikan basecamp pendaki. Teman yang sudah menunggu Keluarga Mba Tri Widayarti Pts (Suami, Vio dan anak laki2nya), Mba Dhanie Pts, Mas Petrus, Keluarga Mba Dina Ananti (Gis, Not, Lubna). Akhirnya kami istirahat dirumah penduduk dulu menunggu esok hari  walaupun anak-anakku menanyakan kenapa harus menginap di rumah seperti ini? Padahal mereka menginginkan tidur dalam tenda. Kami menjanjikan besok malam kita bias tidur di tenda.
Pagi-pagi kami sudah bangun dan sarapan serta menyiapkan perjalanan ke air terjun. Untuk pendakian harus memverifikasi data di kantor Perhutani. Kantor buka jam 09.00 sehingga kami meunggu lumayan lama sambil bercengkrama karena kami beberapa tahun tidak bertemu setelah Reuni Akbar Wapeala di Kopeng 2010. Setelah administrasi selesai, jam 10-an kami melanjutkan perjalanan, anak-anak sangat antusias dengan perjalanan ini bahkan Asha sudah akrab dengan Vio dan Ranu. Trio gadis kecil yang ceria. Dalam perjalanan menuju air terjun dari gerbang sekitar 7 km atau bisa ditempuh 2 jam perjalanan normal orang dewasa. Tapi kami membawa anak-anak kecil dibawah 5 th sehingga perjalanan semakin lama dengan kondisi jalan yang penuh bebatuan tapi tidak terlalu terjal. Alhamdulillah Muthi dan Lubna lumayan kuat dan tangguh tidak merengek ketika naik.

Jam 12 kami sampai di telaga biru, membuat anak-anak tergiur untuk bermain air dalam telaga. Kami istirahat sambil makan siang dan sholat. Setelah selesai kami melanjutkan ke air terjun, tetapi sebelum air terjun ada pertigaan menuju puncak. Akhirnya kami berpisah dengan rombongan (ellysa, Dhanie, Petrus dan Tri) yang menuju puncak. Tim hore melanjutkan ke air terjun dan bermain air, berfoto-foto dan bercengkrama. Setelah 30menit kami bersantai tiba-tiba mba Tri kembali, dia membatalkan naik ke puncak Gede. Mba Tri Galauuuu…..

Setelah selesai membersihkan diri, kami pun melanjutkan perjalanan menuju bumi perkemahan berburu dengan waktu yang sudah semakin sore dan Lubna merengek dalam perjalanan pulang. Sampai di Pasar kami makan, mandi, sholat, dan menuju tenda untuk istirahat malam dan menyiapkan air minum untuk susu anak-anak. Mba Tri sekeluarga pulang tengah malam dari sini menuju Serpong.



Hari minggu kami bangun dan menyiapkan masakan dengan kompor gas kecil yang sudah disiiapkan Mas Untung. Anak-anak menuju danau dan naik perahu bersama Mas Untung dan Mas Zaenal. Sedangkan Aku, Mba Zaki dan mba Dina masak. Setelah jam 10-an kami menuju Taman Bunga Cibodas menikmati pemandangan alam di Taman Bunga ini sambil menunggu Tim Puncak. Ketika tim puncak turun  maka kamipun menikmati kebersamaan di warung dan persiapan menuju pulang. Alhamdulillah acara camping berjalan dengan aman dan semua pulang dengan keadaan sehat wal’afiat.

Minggu, 21 September 2014

Indonesia International Motor Show- IIMS 2014



Kami sekeluarga mengunjungi Pameran kendaraan bermotor ini pada Hari Sabtu malam 20 September 2014. Rencananya kami mau menemui orang tua di rumahnya adik di Cibitung tapi anak-anak pingin mampir lihat-lihat mobil terbaru. Apalagi saat ini bukan waktunya kami jalan-jalan menghabiskan uang yang memang sudah habis di tanggal ini.Untuk masuk ke ajang pameran ini diperlukan tiket masuk seharga Rp 60.000,- yang membuat aku terkaget-kaget, tapi apa daya sudah di datang disini jadi ya akhirnya dibayar juga untuk berempat karena Muthi masih dibawah 4 tahun jadi tidak dikenakan tiket masuk. Ternyata penjagaan tiket pun tidak terlalu ketat sehingga bias saja ada orang yang tidak membeli tiket. Tapi prinsipku sih selama itu aturan yang tidak melanggar syariat ya harus di taati jadi kalaupun harganya mahal ya harus dibayar jika ingin masuk.
Pameran mobil dengan para SPG (sales promotion girl) yang sangat seksi dan cantik-cantik membuat para pengunjung yang kebanyakan lelaki betah berlama-lama untuk melihat-lihat mobil sambil ngobrol dengan para SPG. Anakku Marsha saja yang masih kecil senang dengan para SPG itu, dia bilang “cantik-cantik ya…tapi auratnya kemana-mana”. Marsha minta difotokan bersama para SPG. Kami keliling area IIMS ini yang dipenuhi mobil-mobil keren yang terbaru. 
Pameran inipun diisi dengan berbagai hiburan oleh artis Indonesia seperti Ari Lasso yang membawakan beberapa lagu di stand Daihatsu. Ada patung-patung pantonim di stand Datsun dan masih banyak yang lainnya.
Ternyata aku malah tergiur dengan sepeda yang bisa dijalankan dengan baterai yang dibisa di re-charger. AKhirnya kami membeli Mr. Jakie seharga 3.8jt. Lumayan bisa untuk sepedaan ke kampus.


Selasa, 11 Maret 2014

Fenomena Toilet Umum di Indonesia (WC Jongkok atau Duduk?)


Bagiku kebersihan sebuah toilet itu sangat penting. Apalagi dalam Islam ada hadist yang menyebutkan bahwa Kebersihan adalah sebagian dari Iman. Bisa dikatakan juga bahwa kebersihan toilet rumah adalah tolok ukur kebersihan sang pemilik rumah tersebut.
Ketika kita bepergian ke tempat umum dalam waktu yang lama tentu memerlukan toilet umum. Tetapi seringkali kita menemukan toilet-toilet umum yang sangat kotor dan jorok. Bahkan di Mall mewah sekalipun terkadang menemukan toilet yang kotor, becek dan jorok. Kenapa hal ini bisa terjadi? Yuk kita lihat dari kacamata orang Indonesia yang mayoritas Muslim.
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh pengelola toilet umum:
1.      Petugas Kebersihan yang rajin dan ulet.
Kebiasaan orang Indonesia saat buang air kecil ataupun buang air besar adalah membersihkan dengan air sehingga ketersediaan air dan petugas kebersihan yang rutin sangat diperlukan sekali di toilet-toilet umum. Apabila petugas kebersihan selalu mengecek dan membersihkan setiap ruang toilet setelah dipakai maka kebersihan toilet akan terjaga.
2.      Air yang Memadai berupa kran air/selang air di dalam WC.
Air masih menjadi hal penting untuk membersihkan saat BAK& BAB. Terutama jika kita membawa anak balita yang masih menggunakan lampin/popok sakali pakai. Saya sempat kebingungan mencari air untuk membersihkan BAB anak saya dalam popoknya.
3.      Ketersediaan WC Jongkok dan Duduk yang sama jumlahnya.
Pengguna toilet umum di Indonesia terdiri dari berbagai kelas sosial, oleh karena itu ketersediaan toilet duduk dan jongkok harus berimbang. WC duduk disediakan untuk memenuhi standar Internasional dan untuk  orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan WC duduk serta manula yang mengalami kesulitan jongkok. WC jongkok disediakan untuk orang-orang yang masih tradisional dengan cara jongkok dan yang menjaga kebersihan bagian tubuh yang menempel pada WC ataupun jijik dengan penggunaan WC duduk umum. Apalagi WC duduk lebih direkomendasikan untuk BAB karena lebih maksimal daya dorong otot pada saat BAB. Secara pribadi, saya lebih senang dengan WC jongkok.
4.      Ketersediaan Tissue dan cairan higinis pada WC duduk.
Untuk memenuhi standar Internasional, di toilet umum banyak dibuat WC Duduk. Seharusnya pengelola memberikan fasilitas kran/selang air, tissue dan cairan higinis untuk membersihkan bagian yang diduduki ataupun kertas alas berbentuk lingkaran sebesar alas WC.

Jika ke-4 hal diatas tidak terpenuhi maka wajarlah jika di Mall besar dan tempat-tempat umum bergengsi mempunyai toilet umum yang kotor, jorok dan menjijikkan karena ada bekas BAB di dinding WC nya.

Minggu, 16 Februari 2014

(3) Amazing adventure to Sanya, China January 22-27, 2014

TOUR in SANYA
Hari kelima (26/01/2014) Hari kedua diadakan One day tour Sanya. Rombongan berkumpul dan berangkat dari Azure Hotel jam 08.00 menuju LUHUITOU PEAK PARK, disinilah kisah dongeng terkenal tentang seorang pemuda yang tersesat di hutan dan memburu seekor rusa yang ternyata adalah seorang putri. Sehingga pertemuan itu membuat mereka jatuh cinta dan akhirnya hidup bersama selamanya di puncak Luhuitou ini.
Dalam tur inilah aku mengenal teman-teman dari berbagai negara antara lain: Gyung-Ju Kang dari Republik Korea (seorang dosen di Pusan National University), A.Pankaj Moses dari India mahasiswa doktoral, Mohammed AlGabri dari King Saud University, Paipai PAN dari Akita prefecture University Japan, Kenta Yamaguchi dari Chiba University Japan, Yongzheng Shao dari Doshisa University Japan. Keakraban kami pun membuat kami bisa saling bercanda dan berfoto ramai-ramai.
Perjalanan dilanjutkan Makan siang di sebuah restoran dengan menu yang sudah disedikan dalam meja bundar seperti di Azure Hotel. Setelah makan siang kami menuju YALONG BAY SEABED WORLD BEACH menikmati indahnya pasir putih yang bersih dan bening dengan kebiruan warna airnya yang mempesona. Masya Alloh...Aku takjub dengan kebersihan pantai ini. Walaupun dipenuhi ratusan orang yang bermain dipantai tetapi mereka tetap menjaga kebersihan pantai sehingga tidak ada satupun sampah yang berserakan di pasir ataupun didalam pantainya. Aku membeli rangkaian kalung dari kerang seharga 10 RMB/3 jenis kalung. Menjelang Ashar kami meuju Jing Run Pearl Museum, aku sholat didalam bis karena tidak memungkinkan sholat di museum. Museum ini menceritakan tentang sejarang mutiara yang banyak dibudidayakan di Sanya ini, bahkan dipamerkan mutiara yang sudah dirangkaikan menjadi berbagai perhiasan wanita dengan harga yang sangat fantastis.
Jam 17.00 perjalanan berakhir dan beramai-ramai kami melanjutkan bermain di Pantai Sanya Bay sambil menikmati sore melihat layang-layang panjang berisi layang-layang kecil sambung menyambung yang diterbangkan sangat tinggi dan menikmati sunset bersama serta makan malam bersama di sebuah restoran dengan berbagai makanan seafood yang sangat enak sekali. Kami membayar masing-masing sekitar 65RMB. Setelah makan malam kami berjalan dipesisir pantai manikmati keramainan malam menjelang tahun baru China. Beberapa teman membeli lampion yang bisa diterbangkan, mereka percaya bahwa lampion itu mewakili harapan/doa mereka kepada Tuhan sehingga ketika lampion itu semakin tinggi maka permohonan mereka akan sampai kepada Tuhan. Aku tersenyum menanggapi ajakan mereka melepaskan lampion, tetapi AlGabri temenku dari Arab Saudi mengatakan kita sebagai muslim tidak boleh mempercayai hal tersebut karena permohonan kita bisa melalui sujud-sujud panjang dalam sholat. Ya aku meyakininya.
Aku mencari oleh-oleh berupa makanan khas sini seperti permen-permen buah dan kue-kue kering seperti rangin dan aku membeli mutiara-mutiara palsu yang cantik, tas dengan tulisan China, hiasan gantungan untuk dipasang didepan rumah. Harga yang ditawarkan oleh pedagang memang mahal tetapi kita bisa menawar 50% nya. Alhamdulillah aku mendapat harga spesial karena sesama muslim dan dia senang ada turis muslim di Sanya.
SANYA – GuangZhou - Jakarta
Hari keenam (27/01/2014) Aku menuju Bandara jam 8 pagi walaupun pesawatku jam 11 siang karena aku ingin tahu kondisi Bandara Sanya dan tidak ingin terlambat check-in. Di Bandara aku ketemu dengan beberapa teman yang naik pesawat pagi ini tapi tidak ada yang bareng lewat Guangzhou. Pankaj transit di Hongkong, AlGabri transit di Beijing. Dan ada pula yang transit di Macau. Sampai di Ghuangzhou aku membeli souvenir boneka berpakaian tradisional cina. Ternyata di Guangzhou Airport banyak penumpang berkebangsaan Arab dan mereka bisa sholat di ruang tunggu dengan bebas. Alhamdulillah akupun bisa sholat dhuhur dan Ashar ditempat agak terlindung di ruang tunggu Bandara. Setelah selesai sholat aku menuju ruang tunggu pesawatku dan tiba-tiba seorang Gadis menyapaku dengan bahasa Indonesia, awalnya aku kaget tapi aku sadar ini kan pesawat menuju  Jakarta pasti banyak orang Indonesia juga. Gadis tersebut seorang pelajar Indonesia keturunan Cina yang studi bahasa di Cina dan sudah menyelesaikan studinya sehingga bawaanya sangat banyak karena mendapat bonus bagasi dari maskapai ybs. Dia sangat kerepotan dengan bawaannya sehingga minta tolong padaku untuk membawakan barang bawaannya. Kubantu dia sampai di dalam pesawat dan kebetulan dia duduk dibagian belakang sehingga kami terpisah tempat duduk. Hanya sampai disitu perkenalan kami karena sampai di Cengkareng sudah malam (21.00) dan aku terburu-buru khawatir Mas Untung menunggu lama.

Alhamdulillah aku mengenal berbagai orang cina yang ramah padahal dalam pikiranku temen-temenku Indonesia yang keturunan cina sombong dan merasa berlebih. Kecuali sahabat penaku seperti Theolina Winoto (pekalongan Jawa Tengah), Caroline Sesilya Gozali (Baubau-Buton, Sulawesi Tenggara) dan Johanna (Nusa Tenggara Barat).

Minggu, 09 Februari 2014

(2) Amazing adventure to Sanya, China January 22-27, 2014

Hari kedua (23/01/2014) di Sanya: Pagi harinya setelah sholat subuh aku berkeliling lagi dan berusaha menemukan hotel tempat konferensi berlangsung esok hari. Aku keliling berjalan kaki mengikuti peta menuju hotel Sanya Haiyun Holiday Hotel, menanyakan ke stafnya dan sungguh mencengangkan; mereka banyak yang tidak bisa berbahasa inggris padahal staf front desk sebuah hotel berbintang 5. Setelah melewati jalan yang agak masuk ke jalan non-utama aku menemukan Azure hotel. Tetapi ketika aku menanyakan pada stafnya, mereka tidak tahu akan ada acara konferensi esok harinya. Semua itu menambah kebingunganku sehingga dengan pulsa pas-pasan aku menelpon Mr. Zang. Dijawab oleh staf yang lain yang menyakinkanku bahwa esok acaranya di Azure hotel. Aku pasrah sajalah...lanjut jalan-jalannya. 

Aku berjalan ke arah perempatan Bandara, tapi aku belok kanan ke arah pemukimam penduduk untuk melihat kehidupan muslim di Sanya ini.  Alhamdulillah aku menemukan Masjid Besar seperti Masjid pada umumnya di Indonesia. Perasaan bahagia semakin bertambah karena tidak pernah kusangka perjalanan ini membawa arti tersendiri bagi aku sebagai muslim menemukan komunitas muslim diantara mayoritas komunis di China.
Untuk keperluan internet aku menggunakan paket simpati 300 rb untuk 5hari.

Hari ketiga (24/01/2014): Pagi-pagi aku mempersiapkan diri menuju tempat konferensi di Azure Hotel. Aku jalan kaki sekitar 1 km dan sampai di Azure hotel ,Alhamdulillah aku menemukan panitia CMECE. Menanyakan tentang schedule dan diberikan stater kit serta kuitansi pembayaran. Setelah itu aku pulang berjalan kaki saja. Ternyata untuk mencari mesin ATM disini sangat sulit padahal hampir semua pembelanjaan menggunakan uang cash karena banyak pedagang kaki lima. Oleh karena itu aku mencari cara untuk menuju kota Sanya Downtown. Awalnya aku menanyakan ke orang tapi tidak semua orang tahu bahasa Inggris jadi aku nekad saja menunjukkan peta pada orang dalam tulisan cina dan mengatakan akan menuju ke tempat tersebut. Akhirnya dia menunjukkan bis2 yang lewat di  Sanyawan RD ini. Aku naik Bis umum no.15 dari Sanya Bay RD menuju Xinfeng Street dengan sistem bayarnya harus dengan uang pas sebesar 3RMB. Kondisi bisnya besar seperti Bis Transjakarta dan penumpangnya pun penuh berhimpitan seperti di Jakarta juga. Aku searching di google Map untuk bisa menemukan ATM dengan logo Visa, karena tidak semua ATM berlogo Visa. Aku sampe jalan 500m dari satu ATM ke ATM lain. Nama lain ATM adalah Bank of Communications. Akhirnya ketemulah aku di Bank of Communication di pinggiran sunga terbesar di Sanya River dekat dengan Xinfeng Bridge. 

Setelah asyik mengelilingi kota Sanya berjalan kaki aku menuju halte untuk kembali ke hotelku. Sampai di hotel masih sore sehingga aku berniat keliling mencicipi berbagai makanan seperti es goreng seharga 10RMB, es ini dibuat dari buah-buahan dan es batu yang diblender lalu dipanggang pada wajan bulat tipis (wajan untuk membuat martabak), dibolak balik agar padat dan setelah padat ditaruh di cup besar lalu siap dnikmati. Lalu aku mencoba Nasi goreng yang diberi kuah terpisah dan ditambah roti maroko. Masya Alloh...kenyangnya.

CMECE 2014
Hari keempat (25/01/2014) Hari pertama dimulainya konferensi dimulai dengen pembukaan oleh 2 keynote speaker dan dilanjutkan dengan presentasi. Aku dapat giliran terakhir presentasi dan tidak mendapat sertifikat. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar  yang dilanjutkan makan malam dengan menu yang sudah disediakan di meja makan. 
 Aku berkenalan dengan peserta cina (gadis Xue Yang dan Liuping Feng) dari Beijing yang membantuku menanyakan jenis dan kandungan makanan yang tersedia, khawatir mengandung B2 yang haram untuk muslim. Presenter terbaik di peroleh oleh peserta dr Czech (Miriam Kalichova-sesi 1) dan peserta dari Taiwan (Shih-Ching Yeh --sesi 2). Setelah selesai aku kembali ke hotel dengan jalan kaki. Walaupun sudah menjelang larut malam tapi suasana masih ramai orang berlalu lalang.


Minggu, 02 Februari 2014

(1) Amazing adventure to Sanya, China January 22-27, 2014

Confuse......it’s my feeling about my trip to Sanya. Sanya is city in Hainan Province at Hainan Island, south of China.
I must went to Sanya because I had presentation about my reserach at The 2014 International Conference on Mechanical, Electronics and Computer Engineering/CMECE 2014.
Untuk pertama kalinya aku mendengar sebuah kota bernama Sanya. Yang ada dalam pikiranku, apakah aku akan baik-baik saja di sana? Apalagi tulisan berbeda, hal itu yang tidak bisa kupahami. Aku berusaha mengelak untuk datang dalam konferensi tersebut karena kekhawatiranku tapi pembimbingku Prof.Pupu memaksaku untuk tetap hadir dengan tanggungan biaya dari IJR (international Joint Research) sebesar 15 jt.
PERSIAPAN MENUJU SANYA CINA
Hal-hal yang kupersiapkan adalah mencari tiket pesawat, booking hotel, visa dan makanan/minuman agar dis Sanya tidak kebingungan mencari makanan/minuman halal..
Pertama: Aku mencari tiket pesawat di website nusatrip dan traveloka, ternyata dari situ terlihat pesawat yang digunakan adalah China Shoutern Airlines (CSA). Akhirnya aku bandingkan harga yang tertera dalam website resmi CSA, dan aku booking tiket depart 22Jan dan Arrived 27Jan dengan harga $596,60 (7.339.970 IDR). Alhamdulillah termasuk harga yang murah dibandingkan dengan penerbangan lain yang transit di Hongkong atau Macau.
Kedua: Aku mencari hotel yang murah dekat dengan tempat konferensi (Azure Resort Hotel) melalui website booking.com. Saat mencari tiket aku dibantu pak Hendriko karena hampir semua tulisan di peta dalam tulisan China sehingga aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah konferensi resmi bukan abal-abal/bohong.
Ketiga: Apply visa. Ada bagian pengurusan visa oleh Universitas Indonesia, aku menggunakan jasa itu dengan membayar visa, asuransi dan ongkos orangnya sebesar 1,8jt. Alhamdulillah dalam waktu seminggu visa ke China sudah issued.
Keempat: Membeli bekal makanan seperti bubur instant, pop mie, lapis legit morisca, kacang koro, kacang garuda, pocari sweat bubuk, teh yang mencukupi untuk 5 hari.
Jakarta – Guangzhou - Sanya
Perjalanan dimulai jam 02.00 (22/01/2014) dari rumah diantar oleh Mas Untung, ternyata sampai Tol Balaraja macet total, mobil tidak bisa bergerak sama sekali. Dalam bingung, aku nelpon pihak tol menanyakan keadaan tol, ternyata ada evakuasi kecelakaan truk. Sampe 1 jam kendaraan tidak bergerak sehingga kami sudah berusaha nelpon taxi untuk menjemput kami dipintu tol Balaraja. Tetapi taxi pun tidak kunjung datang sehingga menambah kebingunganku. Setelah 1,5 jam akhirnya mobil mulai bergerak dan Alhamdulillah kami sampai Bandara jam 06.00 sehingga masih ada waktu untuk bernafas dan tidak terburu-buru karena pesawat depart jam 08.35. CAS berkerjasama dengan Garuda Indonesia sehingga pesawat yang kugunakan adalah GI airbus 330-200. Pesawat mendarat di Guangzhou pukul 14.45. Kekhawatiranku terbukti, ketika sampai di Bandara Baiyun,Guangzhou hampir 80% petunjuk arah dalam tulisan China sehingga aku harus bertanya ke petugas informasi untuk lanjutan perjalanan ke Sanya. Dan walaupun mereka bisa berbahasa Inggrispun ternyata logat mereka mempengaruhi kejelasan ucapan mereka. Sulit memahami bahasa Inggris mereka. Setelah melewati imigrasi aku lanjut dengan pesawat dari Baiyun Guangzhou jam 18.00 menuju Sanya Phoenix International Airport selama 1jam 20 menit sampai jam 19.20 di Sanya.
 

Muslim in Sanya
Hari pertama  (22/01/2014) di Sanya: Jam 19.20 Dan masya Alloh....aku harus kebingungan mendapatkan arah keluar dari Bandara karena tidak ada tulisan latin. Aku mengikuti arah orang-orang bergerak saja, lalu aku mencari informasi desk. Alhamdulillah cs nya bisa berbahasa Inggris dan menjelaskan pada taxi driver tentang tujuanku ke hotel Taikang dan menyepakati tarif 20 RMB (yuan). Dengan bahasa China, sopir taxi mempersilahkan aku mengikutinya ke mobilnya yang ternyata bukan taxi resmi.  Dan aku kaget disapa Assalamualaikum oleh salah satu sopir lain. Aku bingung...ini menggoda atau mereka memang muslim? Astaghfirulloh.....aku takut.
 Sesampainya didalam mobil tersebut, sopir mengetahui aku dalam ketakutan sehingga dia berusaha menenangkan aku dengan bahasa chinanya dan menunnjukkan kopiah putih padaku bahwa dia Muslim. Alhamdulillah.....sebuah anugrah dari Alloh saat di negeri dengan bahasa dan tulisan china aku menemukan sodara seiman. Dari bahasa isyarat yang dia nyatakan dia mengatakan bahwa istrinya juga muslim, lalu dia menunjukkan ke pinggir-pinggir jalan yang banyak di penuhi orang berlalu lalang mengenakan jilbab. Alhamdulillah, subhanalloh Allohu Akbar tak henti kulafadzkan atas karunia Alloh mengetahui bahwa pulau ini di huni oleh penduduk muslim.
Setelah lama berputar-putar tidak bisa menemukan hotelku, sopir berinisiatif menelpon staf hotel untuk menemukan posisi hotel. Sesampainya di hotel, sopir menurunkan bagasiku dan dia tidak mau dibayar dia bilang Moslem...Moslem...Subhanalloh begitu senangnya dia menemukan turis muslim sehingga rela menggratiskan taxinya untukku sesama muslim. Sampai di hotel aku harus membayar penuh harga hotel sebesar 700RMB (yuan) padahal aku hanya membawa uang 1000RMB terpaksa aku bernegosiasi dengan staf hotel (yang tidak bisa berbahasa Inggris) untuk membayar 400RMB hari ini dan sisanya besok sehingga terjadi miskomunikasi. Cukup lama aku ngotot dengan bahasa isyarat tanpa penyelesaian sampai dengan datanglah seseorang pengunjung hotel yang cukup rapi menyapaku dengan mengatakan Muslim...muslim...lalu dia menanyakan sesuatu ke staf. Alhamdulillah kuajak bicara dengan bahasa Inggris, dia bilang little. Aku menjelaskan maksudku untuk membayar bertahap dan dia menjelaskan ke staf hotel juga, akhirnya selesai dan aku bisa istirahat di lantai 5 hotel yang tidak mempunyai lift. 
 

Pukul 22.00 masih terlihat ramai diluar hotel sehingga aku turun dan berkeliling melihat para pedagang kaki lima yang menjajakan makanan seafood dan souvenir khas laut. Para pedagang yang perempuan kebanyakan berjilbab sehingga mereka tidak asing dengan jilbabku dan aku tidak menjadi perhatian penduduk asli. Banyak restoran halal yang kutemui dsekitar sini. Disekeliling terdapat banyak sekali hotel, memang Sanya terutama tempatku menginap daeran Sanya Bay adalah salah satu tempat wisata pantai di pulau ini. Setelah berkeliling Aku bertanya tentang arah kiblat ke pedagang yang berjilbab, kembali ke hotel dan istirahat.