Laman

Cerita keseharian

STORY ABOUT ME

Rabu, 10 Juni 2020

New Normal Pasca Ramadan

(Sumber: Copas dari grup WA ODOJ)
Jangan hanya covid 19 yang menuntut kita untuk menerima adanya new normal dengan beragam gambaran kehidupan yang berubah dari masa-masa sebelumnya. Semestinya Ramadan pun membuat kita mampu menerima dan menjalani new normal, tentu saja dalam perspektif ajaran Islam.

Jika kita selama ini merasa berat tilawah Al-Quran setiap hari dengan jumlah bacaan tertentu, Ramadan mengajarkan kita bahwa hal tersebut mudah dilakukan. Jika kita selama ini merasa berat berpuasa, Ramadan mengajarkan kepada kita, bahwa jangankan beberapa hari, sebulan pun kita mampu melakukannya. Jika kita merasa berat qiyamullail, Ramadan berikan kita bukti, lebih dari 2 rakaat pun bisa kita jabanin. Jika kita selama ini berat berderma, Ramadan mengajarkan kita bahwa berderma dan berbagi itu sangat mengasyikkan. Jika selama ini berat meninggalkan praktek kemaksiatan, Ramadan mengajarkan kita bahwa meninggalkan kemaksiatan itu mudah, bahkan lebih menenangkan....

Inilah new normal yang kita harapkan pasca Ramadan... nilai-nilai Islam bukan lagi hanya asyik diperbincangkan tapi dia seharunya sudah menyatu menjadi pola hidup, lifestyle yang tak terpisahkan dalam kehidupan seorang muslim dan masyarakat muslim.

Merubah pola kehidupan menjadi lebih dekat dengan nilai dan ajaran Allah inilah sesungguhnya new normal yang kita harapkan.

Inilah koentji keberhasilan Ramadan kita....!!

Selasa, 09 Juni 2020

Mengubah Musibah menjadi Berkah

Departemen Training, PSDM One Day One Juz

OSM (ODOJ Spirit Message)



Manakala musibah datang bertubi atau masalah kian meluas tiada bertepi. Surutlah sejenak untuk sendiri. Karena mungkin Allah sedang menanti doa ataupun muhasabah dari hambanya.

Sebab tidak selembar daunpun yang tanggal dari ranting tanpa kehendak-NYA. Apalagi musibah yang menimpa kita.

Sebutlah musibah virus yang menimpa kita saat ini atau musibah lain dibagian wilayah lainnya, yang membuat setiap orang menderita.

Padahal mungkin saja sebaliknya, justru keberkahan; dimana yang awalnya antar tetangga tidak mengenal jadi saling bertegur sapa dan ringan membantu. Tumbuhnya empati, rasa saling melengkapi untuk membantu adalah keniscayaan yang indah.

Sebagaimana firman Allah SWT : Maka bisa jadi engkau membenci suatu perkara dan Allah menjadikan pada perkara tersebut banyak kebaikan (QS. An Nisa:19)

Karenanya hadapi setiap musibah yang mewarnai kehidupan ini dengan kesabaran, sehingga ia berubah menjadi berkah  yang diridhoi Allah SWT. Aamiin..


D'Salam, Batam
Wedhya Wardani
Dept. Training.

OSM-1696/2020 

Cukuplah kematian pemberi nasihat

(Oleh: Ustadz Najmi Umar Bakkar)

Alangkah bodohnya manusia,
Tak tahu kapan maut mendatangi,
Tetapi mereka tidak juga bersiap diri...

Kematian menyergap memutus urat nadi,
Dalam kubur mencekam tinggal sendiri,
Menumbangkan seluruh keperkasaan,
Menjadi bangkai yang menyeramkan...

Cukuplah kematian pemberi nasihat,
Dari kelalaian yang demikian cepat,
Tak berguna bagi yang tak kembali,
Tak bermanfaat yang tak menanggapi...

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

"Biarkanlah mereka makan (di dunia) dan bersenang-senang serta dibuai oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya)..." (QS. Al-Hijr [15]: 3)

Jika sekiranya engkau kaya, maka bukan berarti Rabbmu mencintaimu...
Jika sekiranya engkau miskin, maka bukan berarti Rabbmu menghinakanmu...
Kaya miskin bukan ukuran kasih sayang Rabbmu, tetapi hakekatnya ujian bagimu...

Syumaith bin 'Ajlan rahimahullah berkata :

"Ada dua orang di dunia yang tersiksa, yaitu orang kaya yang diberi dunia sehingga tersibukkan olehnya dan orang miskin yang dijauhkan dari dunia, tapi tetap mengejarnya sehingga nafasnya terputus dengan beribu penyesalan" (Shifatus Shofwah III/347).

Ibnus Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata :

‏هب الدنيا في يديك ومثلها ضم إليك، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك، فإذا جاءك الموت فماذا في يديك؟

"Anggaplah dunia ada di genggamanmu dan ditambah lagi yang semisalnya, dan anggaplah Timur dan Barat datang kepadamu, namun jika kematian telah datang kepadamu, lalu apa gunanya yang ada di tanganmu tersebut? ?" (Siyar A’laamin Nubalaa' 8/330)

Semua kenikmatan tak lagi berarti saat maut menjemput, lantas mengapa masih bermaksiat kepada Allah tanpa takut...?

Bisa jadi sebentar lagi dalam barisan orang mati, tapi kenapa masih asyik berleha-leha tanpa taubat dan intropeksi diri...?

Semenit yang terlewatkan merupakan angan-angan berjuta ruh, supaya mereka bisa beramal dan bertaubat, namun itu semua tidak mungkin terjadi karena sudah terlambat...

Jika hawa nafsu mengajak bermaksiat, ingatlah angan-angan mereka yang tiada...
Jika merasa lesu untuk beramal, ingatlah angan-angan mereka yang telah tiada...

Betapa mengherankan,
Yakin adanya kematian, tapi bermain-main,
Yakin adanya Neraka, tapi terus maksiat,
Yakin adanya hisab, tapi tetap lalai...

Adakah hati yang sadar...?
Adakah jiwa yang bergetar...?
Adakah telinga yang mau mendengar...?

Bilal bin Sa'ad rahimahullah berkata :

رُبَّ مسرورٍ مغبونٌ و لا يَشْعُرْ ، يأكلُ و يشرب و يضحك و قد حقَّ له في كتاب الله انه من وَقود النار

"Betapa banyak orang yang gembira tetapi tertipu tanpa menyadarinya. Dia makan, minum, dan tertawa, padahal telah tertulis dalam Kitab Allah bahwa dia termasuk bahan bakar api Neraka" (Az-Zuhd hal 509 oleh Imam Ahmad)

Seseorang yang selamat di alam akhirat adalah yang selamat di alam kubur...
Seseorang yang selamat di alam kubur adalah yang selamat di akhir hidupnya...

Barangsiapa yang sibuk dengan beribadah, bertaubat, berdzikir dan mencintai Allah saat hidup, maka ia akan disibukkan dengannya saat ruhnya keluar menuju Allah Ta'ala...

Rabu, 03 Juni 2020

PERBAIKI JADWAL SHOLATMU, AGAR ALLAH ATUR JADWAL HIDUPMU"

(Sumber: Copas Grup WA ODOJ)

Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya.
.
Begini jadwalnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam.

Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi.

Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman, yang ilmu agamanya lumayan.

Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya, "Jadual sholatmu gimana?"

"Jadual sholat? Apa hubungannya?" saya keheranan.

"Sholat subuh jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.

" Errr... Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.

"Sholat dhuhur jam berapa?"

"Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.

"Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.

"Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya makin heran.

Temen saya tersenyum dan berkata, "Pantas jadual hidupmu berantakan."

"Lhooo.. kok? Apa hubungannya?" saya tambah bingung.

"Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.

"Lha iya, makanya saya tadi cerita...," saya menyahut.

"Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah," jawabnya.

"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.

"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek.

Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget.

Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.

Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A, "Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."

Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B.

"Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada jadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas."

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut, "O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"

Dari seberang sana dia menjawab, "OK Mas, nanti saya sampaikan."

Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah SMS masuk, bunyinya:

"Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup."

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.

Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya.

Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita.

Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah.

Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.

Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya.

Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya.

Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.

-M. Arief Budiman-


Apa yang disampaikan pak Arief Budiman, sesungguhnya pengamalan dari hadits Nabi:

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

[Hadits Sahih riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad]

Selasa, 02 Juni 2020

ISLAMIC LIFE STYLE

(Sumber: Copas WA grup ODALF)

KETUA  UMUM   MUI 
SUMATRA  ~  BARAT memunculkan istilah "Islamic  Life  Style" sebagai pengganti istilah "New Normal".

Lebih baik mengguna kan istilah
"Gaya Hidup Islami" ketimbang "Normal Baru" yang relatif kabur.


Apalagi kalau itu hanya sekadar pakai masker, sering cuci tangan, jaga jarak, atau
#DiRumahAja,
kalau tidak ada keperluan yang mendesak keluar rumah.

Gaya Hidup Islami sudah ada sejak 15 abad yang lalu.

Mewajibkan cuci tangan, minimal 5 kali dalam sehari ketika hendak shalat wajib.
Belum lagi anjuran untuk selalu menjaga wudhu.
Itu artinya setiap lepas wudhu, setiap itu juga kembali cuci tangan.

Kalau jaga jarak, tidak hanya jarak yang dijaga, tapi juga pandangan untuk tidak melihat hal-hal yang tak dibolehkan menurut agama.

Ditambah pula, tiap keluar rumah harus membaca doa dan selama perjalanan  wajib berzikir kepada Allah Azza Wa Jalla.

Jadi, tidak ada istilah keluar rumah itu berleha-leha tidak karuan, tanpa jelas keperluan apa yang hendak dicari.

Soal masker, bahkan kaum perempuan sudah sejak dulu dianjurkan pakai cadar.
Kaum laki-laki pakai sorban, yang bisa digunakan sebagai penutup mulut dan hidung, bila udara atau suhu dirasakan tak bersahabat.

Jadi cerdas sekali Ketua Umum MUI Sumatra barat, mengganti istilah "Gaya Hidup Islami" untuk istilah "Normal Baru" yang malah bisa diartikan kehidupan yang tidak normal.

Gaya Hidup Islami adalah cara hidup yang sangat normal dari sejak dulu.

Buat  apa  lagi  bikin -bikin  cara  hidup  baru  yang  tidak  jelas  dan  kabur  itu  . . . ?