ELECTRICAL ENGINEERING DEPARTEMENT

STORY ABOUT ME

Selasa, 18 Juli 2017

Anak adalah Asuransi Terbaik


ANAK ADALAH ASURANSI TERBAIK

Oleh : Ust. Budi Ashari. Lc

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)

Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”

Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.
Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.
Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

Ibunda Imam Besar

Bismillah..

*Ini Ibu Mereka*

Oleh : Ust. Budi Ashari, Lc

Hindun binti Utbah. Saat anaknya masih kecil, ada yang berkata kepada ibunya bahwa kelak anak ini menjadi pemimpin bagi kaumnya.
Hindun berkata, "Celakalah dia, kalau hanya menjadi pemimpin bagi kaumnya saja!"
Anak itu besar dan benar memimpin bumi, bukan hanya kaumnya. Muawiyah radhiallahu anhu.
(Inilah Ibu yang tak rela dengan hasil yang sederhana)

Seorang ibu. Suatu hari dia berkata pada anaknya, "Nak, tuntutlah ilmu. Aku yg mencukupimu dengan tenunanku. Nak, jika kamu telah menulis sepuluh hadits, maka lihatlah jiwamu apakah ia bertambah takut, lembut dan wibawa. Jika kamu tidak melihat itu ketahuilah bahwa ia membahayakanmu dan tidak manfaat bagimu."
Dan lahirlah seorang pakar ilmu besar bidang hadits dan faqihnya Arab. Sufyan ats Tsauri rahimahullah.
(Ibu yang berjuang membiayai pendidikan anaknya dan membimbing dengan nasehat mahalnya)

Seorang ibu. Dia hampir tak pernah melewatkan malam-malamnya untuk menangis dan berdoa dalam qiyamnya. Hingga suatu hari ibu ini bermimpi melihat Nabi Ibrahim yg memberi kabar gembira hasil banyaknya doa dan derasnya air mata. Kabar gembira tentang anaknya yg bisa melihat kembali setelah buta sejak kecil. Dan benar pagi itu, anaknya bisa melihat.
Di usia anaknya yang ke-16 tahun, ibu ini mengantarkannya ke Mekah untuk haji sekaligus duduk di pusat ilmu Islam. Agar kelak ia pulang menjadi amirul mukminin bidang hadits. Beliau adalah Imam Al Bukhari rahimahullah.
(Ibu yang membangun kesholihannya untuk anaknya dan mengawal pendidikannya)

Terkadang dari rahim seorang ibu lahir bayi yang kelak bermanfaat bagi seluruh umat Muhammad...
Untukmu, para ibu dan calon ibu...

Senin, 18 Juli 2016

Cerita Cinta (bag.2)

Cerita 3:
Cerita dia yang diceritakan padaku.
Hidup dalam kesendirian bukanlah pilihan hidupku tapi takdir telah menentukan hidupku seperti itu. Sampai umur 39 tahun aku masih melajang.
Bertahun tahun lalu saat aku masih kuliah. Aku selalu meraih IPK terbaik dan tertinggi bahkan tidak kesulitan mengikuti setiap mata kuliah yang diajarkan oleh para dosen. Bahkan secara fisik aku termasuk cantik (menurut sebagian besar teman). Aku tipe pendiam yang selalu mendengarkan apapun yang dikatakan teman. Aku bisa menggunakan tenaga dalamku untuk menggerakkan benda-benda disekitarku.
 Semester 1 aku sudah mendapatkan beasiswa BCA. Senior-senior berebut perhatianku bahkan sering sekali datang ke kost ku untuk menanyakan tugas-tugas kuliah ataupun sekedar berbasa basi ingin pendekatan terhadapku.
Ada senior (Gayo) yang 5 tahun di atasku pernah mengungkapkan keseriusannya terhadapku tapi kutolak halus karena aku masih ingin meraih cita-cutaku yang masih berputar dikepalaku. Dengan berjalannya waktu pun ada seorang senior (Hesa) yg terpaut 3 tahun diatasku selalu datang ke kostku tiap sore untuk pendekatan..tapi tidak pernah terucap maksud kedatangannya. Sampai dengan aku mendekati kelulusan..dia menyampaikan maksudnya menjadi calon istrinya...tapi kutolak dengan halus dengan beebagai alasan bahwa aku ingin mengabdikan hidupku pada ibuku yang sudah janda. Teman seangkatankupun (Petra) ada yang berusaha mendekatiku tetapi kutolak karena dia berbeda keyakinan agama denganku. Aku ingin menikah dengan lelaki yang seiman denganku. Tetapi ketika temen seangkatanku yang lain (Fama) seiman denganku begitu perhatian denganku pun aku tidak menunjukkan respekku sehingga dia tidak berani mendekatiku lagi. Sampai dengan kelulusan berakhir...aku langsing diterima kerja di Yamaha Motor dan bertahun-tahun monoton dengan pekerjaan sehingga aku pindah kerja di sebuah rumah sakit swasta sampai saat kuceritakan ini padamu. Dan sebagian besarpun kau tahu apa yang kujalani. Betapa banyak lelaki yang ingin meminangku tetapi apalah dayaku yang masih ingin menjaga ibuku. Betapa sulit hidup dilingkungan pedesaaan dan masih melajang dalam umur 39 tahun. Betapa aku bahagia ketika kau menanyakan keberadaanku bahkan berusaha mengenalkanku dengan temanmu. Semua kriteria yang kau ceritakan tidak masalah buatku. Tetapi ketika syarat itu kau ajukan aku tidak bisa memenuhinya karena kehidupanku berputar pada kerja dan ibuku, yang kesehatannya selalu dalam pengawasanku. Sakit ibuku yang mengharuskan kontrol setiap minggu ke dokter membuatku tidak bisa mempunyai waktu penuh untuk menjadi istri dari seorang duda dengan 3 anak kecil yang masih sangat membutuhkan waktu dan kasih sayang ibunya bahkan tempat tinggalnya dengan ibuku berpaut hampir 200km.
Apalah dayaku...jika Alloh belum mempertemukan jodohku. Smoga Alloh tetap mempertemukan  jodohku dilain waktu.

Cerita 4:
Aku mengenalnya di koperasi kantor saat jam istirahat dan belanja di koperasi. Awalnya aku sering meledeknya dengan candaan yang menyebalkan (dia ungkapkan setelah menikah). Kami sama-sama merantau ke pulau ini. Akhirnya kami pun dekat saling bercerita suka duka merantau. walaupun masih tetap ledek-ledekan. Dan tibalah pernikahan kami yang dilaksanakan di pulau jawa tempat asal istriku. Aku sangat mencintai istriku...wanita yang selama ini mendampingiku merantau bekerja di pedalaman Indonesia. Wanita yang selalu ada disaat aku susah maupun senang. Walaupun sampai saat ini, setelah 14 tahun pernikahan Alloh belum mengaruniakan amanah anak kepada kami. Tapi kami berusaha bertahan dengan segala keterbatasan yang kami miliki. Kami berusaha ke dokter di rumah sakit kabupaten dan kami berusaha memperbaiki ibadah kami.
Berbagai tugas dari kantor kadang mengharuskanku meninggalkannya untuk beberapa waktu yang lama. Tetapi komunikasi kami berjalan lancar melalui skype, whatsapp dan telpon. Karena aku sangat mencintainya. Ada atau tidak ada anakpun, kami berusaha tetap bersama merajut cinta mengharap rahmat Alloh swt yang begitu luasnya. Mungkin kebahagiaan kami bisa kami bagi ke teman-teman lain yang se komplek perumahan. Cinta kami pada anak, kami curahkan pada anak-anak dari teman-teman kami. aamiin...

Sabtu, 28 Mei 2016

Cerita Cinta

Ahai cinta......sulit diterjemahkan dengan kata. Mau ngomongin cinta yang mana dulu nih?
Cinta ala para pendamba cinta yang alay?
Cinta karena Alloh?
Bukan semua itu...aku cuma mau ngomongin cinta yang kulihat disekitarku....
Cerita 1:
Setiap lebaran datang aku sering menanyakan wanita seperti apa yang diinginkan lelaki itu Ade sehingga sampai umur 38 tahun dia masih melajang. Sudah beberapa kali mengenalkan pada beberapa teman tetapi selalu ditolaknya. Sesulit itukah menentukan pendamping hidup untuknya? Dan akhirnya jawaban pertanyaanku hadir di bulan April 2016  ketika HRD perusahaan tempat dia bekerja mengupload foto pernikahan yang ternyata mempelainya adalah lelaki tersebut. Ya...dia memang menikah diam-diam tanpa mengundang teman-temannya bahkan teman dekatnya tidak ada yang tahu. Siapakah perempuan yang mendampinginya? Perempuan dengan seorang anak laki-laki 5thn bersamanya. Perempuan itulah yang pernah mengisi hari-harinya bertahun-tahun lalu. Perempuan yang selalu dicintainya sampai sekarang...perempuan yang telah sendiri lagi setelah suaminya wafat beberapa bulan sebelumnya. Mereka dipersatukan kembali dalam ikatan yang lebih baik...yaitu ikatan pernikahan. Penantian seorang lelaki yang menemukan cintanya kembali.
Aih...aih....seneng banget melihat mereka bahagia Ade&Ayu.
Cerita 2:
Seorang arsitek muda Utsman 32tahun yg sedang mencari calon istri, dia berkenalan dengan seorang gadis Ayi yang berumur 30 tahun. Mereka berkomunikasi lewat sms dan telepon sehingga sepakat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Tetapi belum menentukkan kapan akan melamar dsb. Sampai akhirnya sang arsitek bertamu sendiri ke rumah gadis A lalu gadis A diajak silaturahim ke keluarga laki-laki di kota yang sama. Ayi ijin sholat saat bersilaturahim ke Pamannya...secara tidak sengaja setelah selesai sholat Ayi menuju ruang tamu kembali,Ayi mendengar percakapan Pamannya yang mengatakan bahwa kenapa memilih perempuan dari  desa....aih...aih...kunonya pertanyaan pamannya yang membuat Ayi berfikir bahwa dia tidak diterima dalam keluarga Utsman.
Akhirnya setelah pertemuan itu Ayi tidak pernah memberi kabar apapun kepada utsman begitupun utsman tidak memberi kabar pada Ayi. Sehingga Ayi memutuskan untuk membuka hatinya pada Wirya. Seorang lelaki pemalu teman semasa SMA walaupun tidak pernah sekelas.
Walaupun ada banyak beberapa yang mendekati Ayi,tapi belum ada yang mencoba serius untuk mengajaknya ke jenjang pernikahan. Sehingga salah seorang Kakak Ayi menanyakan ke Wirya tentang kelanjutan hubungan mereka. Apakah akan berlanjut ke pernikahan? Ternyata setelah sebulan dari pertanyaan itu Wirya&keluarganya datang bersilaturahim untuk menyatakan keseriusan hubungan mereka yang akan berlanjut ke pernikahan. Dan pernikahan pun dilangsungkan setelah 1 tahun dari perkenalan mereka. Alhamdulillah...Berakhir bahagia untuk Ayi&Wirya...
Beberapa bulan setelah pernikahan mereka...Utsman menelpon Ayi menanyakan kabar dan Ayi pun memberitahukan pernikahannya dg Wirya. Utsman pun kecewa....dan mengucapkan selamat atas pernikahan Ayi.
Begitulah laki-laki yang terlalu mendengarkan omongan orang lain daripada mendengarkan kata hatinya.