Laman

Cerita keseharian

STORY ABOUT ME

Kamis, 30 Agustus 2012

PASSPORT – By Rhenald Kasali

PassportJawapos, 8 Agustus 2011.
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.
Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
Rhenald Kasali – Guru Besar Universitas Indonesia.

Selasa, 12 Juni 2012

Brocante de Compigne 10 Juin 2012


 

 

Even ini adalah pasar murah Prancis yang diadakan di keliling kota-kota di Pransis, kebetulan minggu ini ada di Compiegne. Akhirnya aku dan teman ke Compiegne mengunjungi teman-teman PPI Compiegne yang kuliah di UTC.
Barang yang dijual sangat-sangat murah antara lain pakaian, alat rumah tangga, elektronik dan mainan anak-anak bukan baru tapi masih layak pakai. Ukuran layak pakai di Prancis dengan di Indonesia beda sekali. Banyak juga barang-barang baru yang dijual murah oleh yayasan yang mengumpulkan dananya untuk sosial anak cacat/HIV/gereja.

Sabtu, 02 Juni 2012

Perjalanan Paris ke Barcelona

Aku bepergian dengan temanku Armita Dhita Kusuma Sabtu-senin; 26-28 April 2012.

Perjalanan dimulai dari :
1.       By TGV : Lille Europe- Paris Gare du Nord : jam 14.00-15.00 (1 jam)
2.       By TER : Paris Gare du Nord-Gare Beauvais : jam 15.15-16.15 (1jam)
3.       Gare Beauvais ada 2 alternatif; yaitu naik
       a.Bis dari halte depan Gare seharga 7Euro atau
       b. taxi-15Euro
Walaupun akhirnya aku naik taxi

4.       Ke Barcelona Naik Pesawat ryanair http://www.ryanair.com/fr/  dengan Jadwal sebagai berikut: 
Yang harus diperhatikan HARUS CHECK IN ONLINE dan print boarding pass sebelum keberangkatan. Jika tidak, maka harus beli boarding pass yg harganya hamper sama dengan harga pesawatnya, hehehe…pengalaman yang tidak menyenangkan.

sam. 26/05/2012
Ryanair
FR 6356 Eco
19:55 Paris Beauvais-Tille
21:40 Barcelone El Prat

PERHATIAN:  We provide you with USEFUL INFORMATION should not be overlooked, concerning your flight. When booking airline established:
- Last boarding time: 40 min
- Hand Baggage: 10 kg - max 55x40x20 cm.
- Checked baggage: Max 1 luggage per person depending on baggage purchased. The company provides for the payment of checked baggage at the counter to record the registration. The book includes A HAND LUGGAGE PER PERSON.
INSTRUCTIONS TO COMPLETE THE ONLINE REGISTRATION
CHECK-IN ON-LINE
CAUTION: RYANAIR is required to check-in online and arrive at the airport a copy of the boarding card, and valid travel documents and accepted by the company.
The check-in line can take place in a period of between 15 days and 4 hours before the scheduled departure. If the return flights are within a 15 day period, it is possible to print simultaneously both boarding cards at check-in line.

5.       Bandara Barcelone El Prat, naik metro ke pusat kota di stasiun BARCELONA SANT dengan tiket yang bisa digunakan beberapa kali perjalanan (kurang lebih 10kali).
Bandara El Prat Barcelona
Bandara El Prat Barcelona
 

Barcelona Sant (Stasiun Barcelona)
Barcelona Sant (Stasiun Barcelona)
       
6.       Jalan kaki menuju tempat menginap dormitory (ramai-ramai) yang khusus perempuan di Alberguinn Youth Hostel c/ Melcior de Palau, 70-74 entlo, Barcelona Spain
Charge on Card (Service Charge + Deposit): €10.80
Amount Due On Arrival: €83.70
Date
Room Details
Per Bed
Pax
Total
Sat 26th May 2012
Deluxe 12 Bed Female Dorm
€24.00
2
€48.00
Sun 27th May 2012
Deluxe 12 Bed Female Dorm
€22.50
2
€45.00
Total: €93.00
10% Deposit €9.30, Service Charge: €1.50,


Jalan Kaki Menuju Hostel


Hostel Alberguinn-Barcelona
Hostel Alberguinn-Barcelona

7.       
      Tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Barcelona dengan mempertimbangkan kontur datarannya ada pegunungan, datar dan pantai maka kuputuskan sesuai urutan berikut:
      a.   Park Guell berada di atas dataran tinggi sehingga bisa melihat kota Barcelona dari ketinggian. Souvenir  disini lumayan murah jika beli di toko-toko pinggiran milik warga India/pakistan.
Parc Guell
Parc Guell


Parc Guell
Parc Guell















     



b.      CampNou; stadion terbesar di Barcelona tempat bertandingnya klub bola andalan Spanyol yaitu BARCA
CampNou Barcelona
CampNou-Barcelona
               
CampNou-Barcelona
CampNou-Barcelona

c.      Sagrada Familia; gereja terbesar yang dibangun ratusan tahun yang lalu tapi masih dalam tahap renovasi yang terus-menerus sehingga keindahan bangunannya terganggu oleh alat-alat renovasi dimana-mana.
Sagrada Familia-Barcelona

Sagrada Familia- Barcelona
d.      Catalunya-La Rambla; pusat pertokoan, kantor dan ‘alun-alun’ Barcelona.


La Place-Barcelona

La Place-Barcelona
     
Catalunya Barcelona
Catalunya Barcelona

Catalunya Barcelona

   









  e.      Port de Barcelona-Aquarium
Port Barcelona
Port Barcelona

Port Barcelona







        Perjalanan selalu menggunakan tranportasi public yaitu metro, dibandingkan dengan metro di Paris, di Barcelona sangat Bersih tapi jarang sekali kutemui wanita berjilbab. Memang kota turis yang sangat indah.

8.       Pesawat ke Paris, naik veuling  http://www.vueling.com/FR/
lun. 28/05/2012
Vueling Airlines
VY 8059 Eco
10:25 Barcelone El Prat /Term.1
12:05 Paris Orly
We provide you with USEFUL INFORMATION should not be overlooked, concerning your flight. When booking airline established:
- Last boarding time: 40 min.
- Hand Baggage: 10 kg - max 55x40x20 cm.
- Checked baggage: Max total 23 kg per person. The company provides for the payment of hold baggage to check in at the registration desk by trajet.La reservation includes ONE HAND LUGGAGE PER PERSON.
INSTRUCTIONS TO COMPLETE THE ONLINE REGISTRATION
This company allows you to check in online. To perform the operation directly click here.
Barcelone El Prat /Term.1
Barcelone El Prat /Term.1


Barcelone El Prat /Term.1


Sampai di bandara Orly, kami menggunakan shuttle train sampai stasiun metro Antony (jalur RER B), kemudian dilanjutkan berbelanja souvenir di Arts et Metiers dan Rambuteau.
9.       Covoiturage http://www.covoiturage.fr/ semacam menumpang mobil orang berbayar dan terorganisasi secara online ; dari Paris menuju Lille seharga 15Euro.

Senin, 16 April 2012

For my soul mate "Untung Mardono"...

(dikutip dari KEMBANG ANGGREK BLOG) 
Suamiku...
Pernikahan atau perkawinan, menyingkap tabir rahasia.
Istri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
pun tidak setabah Fatimah, apalagi secantik Zulaikha.

Istrimu ini hanyalah wanita akhir zaman, yang punya cita-cita, menjadi wanita shalehah...

Pernikahan atau perkawinan, mengajar kita kewajiban bersama,
Aku menjadi tanah engkaulah langit penaungnya,
Aku ladang tanaman engkaulah pemagarnya,
Aku kiasan ternak, engkaulah gembalanya,
Aku adalah murid, engkaulah mursyidnya,
Aku bagaikan anak kecil, dan engkaulah tempat bermanjanya.

Saat aku menjadi madu, engkaulah yang mereguknya,
Andaikan aku tulang yang bengkok, hati-hatilah meluruskannya.

Pernikahan atau perkawinan, menginsyafkan kita perlunya Iman dan Taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dan Ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena memiliki istri yang tidak sesempurna mana,
Justru.... engkau akan tersentak dari alpa,
engkau bukanlah Rasulullah, pun bukan pula sayyidina Ali Karamallahuwajhah, hanya suami akhir Zaman yang berusaha menjadi Shaleh...

Salam Cinta karena-Nya..
 

Selasa, 03 April 2012

AL SADAQAT AL JARIYAH

*****- THE ACTIONS WHICH OUTLIVES YOU!*****
 
1. Give a copy of Quran to someone and each time they read from it, you will gain hasanaat
 
2. Donate a wheel chair to a hospital and each time a sick person uses it, you will gain hasanaat
 
3.  Share constructive reading material with someone
 
4. Help in educating a child
 
5. Teach someone to recite a dua. With each recitation, you will gain hasanaat 
 
6. Share a dua or Quran CD 
 
7. Participate in the building of a mosque 
 
8. Place a water cooler in a public place 
 
9. Plant a tree. Each time any person or an animal sits under its shade or eats from the tree, you will gain hasanaat 
 
10. Share this with someone. If one person applies any of the above you will receive your hasanaat until the Day of Judgment

Senin, 02 April 2012

TANGAN IBU



Tanganmu, Ibu.
Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan

(Emha Ainun Najib)

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpaiku di depan pintu. Bergegas kurengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.

Ba'da Ashar,

"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Bergegas aku angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. "Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikirku.

"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Aku memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Aku pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.

"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di depan yah" pinta Ibu.

"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas Aku memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.

Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika Aku masuk rumah sepulang dari ziarah. "Mbak.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arahku. "Bu, siapa itu.?" tanyaku. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya. Dan Aku semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.

Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika Aku menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur'an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat Aku tertegun. Tangan itu terus bergetar. Aku berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak Aku pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?

"Dingin" bisikku, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepalaku. Aku memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang, kami melakukan sholat isya' berjamaah,
Usai shalat, Aku menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi Aku pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. "Duh Allah, sayangi Mamah" spontan Aku memohon. "Nak" suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depanku, kebiasaan saat selesai shalat, Aku rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.

"Tangan ibu kenapa?" tanyaku pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.

"Penyakit orang tua"

"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Aku memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, Aku membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, Aku seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untukku. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalanku. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika Aku mencari kekuatan di pangkuannya saat hatiku bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang Aku jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajarku ketika Aku masih kecil yang katanya biar Aku lebih semangat belajar.

Sewaktu Aku baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat Aku mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang Aku sukai. Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang Aku baca dari sebuah buku. Jika Aku renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan.. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, Aku masih merajuknya "Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas Aku pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, Aku merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , Aku reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untukku. Selagi sisa waktu yang Aku punya masih ada, tangannya Aku ciumi sepenuh takzim. Aku takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.

***

Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisanku ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya.