Mengenai kata-kata "Halal" Dan "Haram"; apa arti dari Kata-kata Tersebut?
Minggu, 25 Januari 2009
Alasan kedokteran ttg darah
Mengenai kata-kata "Halal" Dan "Haram"; apa arti dari Kata-kata Tersebut?
Senin, 24 November 2008
Rezeki
Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah Allah jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya. Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.
Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya saya gagal terus dalam bisnis?” “Mengapa hati saya tidak pernah tenang?” Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya?
Saudaraku, Allah adalah Dzat Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.
Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.
Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, doa minta hujan isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.
Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.
Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.
Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin.
Jumat, 10 Oktober 2008
Jurnal Internasional Irma Saraswati & Gunawan Witjaksono
http://www.inderscience.com/info/inarticle.php?artid=20714
Bahagia sekali rasanya paperku merupakan paper pilihan pada konferensi WOCN July 2007 Singapore sehingga berhak terbit di
International Journal of Communication Networks and Distributed Systems
2008 Vol. 1 No. 3
Special Issue on Advances in Wireless and Optical Communications Networks
Guest Editor: Dr. Vincent Guyot
Thank you very much to Dr. Gunawan Witjaksono!
.Senin, 18 Agustus 2008
Pendakian Gunung Slamet 17 Agustus 1997
Aku melakukan pendakian ini karena salah satu temanku (Susilo Kusdiwanggo -T.Arsitek angkatan 1993 UNDIP) perlu guide penunjuk jalan mendaki gunung tersebut. Kenapa harus aku? Aku juga tidak tahu alasannya tetapi permintaannya sedikit memaksa, jadi berangkatlah kami menuju G. Slamet.
![]() |
| Mapala Akafarma dan Susilo Kusdiwanggo |
Perjalanan dari base camp menuju Pos II akan melewati lahan pertanian, lapangan, pos payung dan hutan pinus. Dari Pos II menuju Pos III (Pondok Cemara) jalanan sempit dan mulai terjal sehingga aku semakin lelah, terseok-seok dan tertinggal jauh dengan teman-teman yang lain terutama Susilo yang sudah jalan lebih cepat. Tetapi ada teman Akafarma yang berganti-ganti menemani aku.
Bersama para pendaki yang lain kami mengikuti upacara bendera.
Kamis, 24 Juli 2008
Link Paperku Irma Saraswati dan Gunawan Witjaksono
http://ieeexplore.ieee.org/xpl/articleDetails.jsp?tp=&arnumber=4284169&contentType=Conference+Publications&searchField%3DSearch_All%26queryText%3DSurface+Emitting+Distributed+Feedback+Laser
| Pak Purnomo Sidi dan Pak Gunawan Witjaksono |
Paper hasil kerjaku selama 2,5 tahun kuliah S2 di Universitas Indonesia (Sept 2004-Jan 2007). Pembimbingku Pak Gunawan Witjaksono adalah orang yang memberikan aku kepercayaan diri untuk memasukkan paper ke International Conference.
Dr. Gunawan Witjaksono saat itu menjadi dosen di Dept. T. Elektro UI, beliau dari S1 sampai S3 di Wiscontin Amerika. Aku sangat kagum pada beliau yang sangat membantu dalam pembuatan tesisku di UI.
Alhamdulillah paperku sukses sehingga bisa publish di IEEE dan berikutnya publish di Jurnal Internasional.
Minggu, 15 Juni 2008
Penelusuran Goa (Caving) di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta 1997
![]() |
| Tim Caver (Himawan, Defrizal, Dewi, Saras) |
Setelah dhuhur kami menuju Yogyakarta, mampir di sodara Dewi. Pasangan motor berubah, aku bareng Dewi, Izal dan Himawan, Mba Titik tetap dengan Mas Iting dan Petrus juga sendiri. Sesampai di Pasar Wonosari, aku sempat salah arah menuju jalan yang satu arah berkebalikan sehingga aku di stop oleh polisi, tapi aku bernegosiasi bahwa aku bukan orang Yogya tapi mahasiswa UNDIP yang sedang perjalanan dan kebetulan plat motorku P sehingga tidak tahu jalan. Alhamdulillah Pak Polisi mengijinkan aku berbalik arah dan menunjukkan jalan yang benar.
Jumat, 22 Februari 2008
Kisah Sesendok Madu
| Foto Puisi Cantik dari Rijal Jalal |
Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota.
Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah namanya Fulan); terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut.
"Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota."Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi?Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air!Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan.Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat.Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.
| Foto Puisi Cantik dari Rijal Jalal |
Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri,dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)Perhatikanlah kata-kata : "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri".Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudiansusulkanlah keluargamu" Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu.Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.(Dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab)






