Laman

Cerita keseharian

STORY ABOUT ME

Kamis, 24 Juli 2008

Link Paperku Irma Saraswati dan Gunawan Witjaksono

Paperku yang masuk ke publikasi internasional adalah dengan link sebagai berikut:
http://ieeexplore.ieee.org/xpl/articleDetails.jsp?tp=&arnumber=4284169&contentType=Conference+Publications&searchField%3DSearch_All%26queryText%3DSurface+Emitting+Distributed+Feedback+Laser

Pak Purnomo Sidi dan Pak Gunawan Witjaksono
Paper ini dibuat saat aku ikut konferensi WOCN 3-5 Juli 2007 di Singapura.
Paper hasil kerjaku selama 2,5 tahun kuliah S2 di Universitas Indonesia (Sept 2004-Jan 2007). Pembimbingku Pak Gunawan Witjaksono adalah orang yang memberikan aku kepercayaan diri untuk memasukkan paper ke International Conference.
Dr. Gunawan Witjaksono saat itu menjadi dosen di Dept. T. Elektro UI, beliau dari S1 sampai S3 di Wiscontin Amerika. Aku sangat kagum pada beliau yang sangat membantu dalam pembuatan tesisku di UI.
Alhamdulillah paperku sukses sehingga bisa publish di IEEE dan berikutnya publish di Jurnal Internasional.

Minggu, 15 Juni 2008

Penelusuran Goa (Caving) di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta 1997

Oleh: Irma Saraswati
Perjalanan itu mengesankan sekali karena saat itu aku tidak pernah memikirkan segala kemungkinan terburuk untuk sebuah penjelajahan. Sodara sepupuku Mas Cecep (Nopiana Sumarlin Sumarna-T.Sipil 1993 UNDIP) sering sekali mengingatkan aku bahkan akan mengancam aku melaporkan pada Bapak tentang aktifitasku di WAPEALA UNDIP.

Tim Caving Wapeala Undip  yang terdiri dari Aku, Mas Haris Respati- Nn (Iting), Titik Wijayanti-Pts, Petrus Sugiantoro-Pts, Dewi Purwandari-Sb, Defrizal-Bq dan Himawan-Bq bersiap-siap menuju G.Kidul.
Tim Caver (Himawan, Defrizal, Dewi, Saras)
Perjalanan kami menggunakan motor, sehingga aku terpaksa meminjam motor honda temenku Mustafa (komting Fisika 1995 yang akhirnya pindah jurusan ke T.Elektro-96) plat Motornya P dari Jember. Motor Mustapa yang pakai Himawan berboncengan dengan Dewi, Defrizal dengan aku, Mbak titik dengan Mas Iting, Petrus sendiri membawa perlengkapan caving.

Hari pertama, Kami berangkat dari PKM Pleburan habis solat dhuhur menuju Yogyakarta, beberapa kali istirahat dijalan. Perjalanan yang melelahkan karena kami sampai di Wonosari tengah malam. Kami sampai di Bacecamp tempat Bapak-Ibu bacecamp. Si Ibu suaranya kenceng banget dan sangat keras sehingga terkesan selalu marah-marah. Kami istirahat sampai dengan pagi.

Hari kedua, kami mulai bersiap-siap menuju Goa yang terdekat Goa Seropan. Aku mengenakan baju overall, sepatu boat helm dan senter. Goa pertama mempunyai mulut goa mengarah ke bumi kering diluarnya setelah sampai kedalam ternyata ada sungai yang mengalir dibawahnya. Banyak sekali kelelawar dan di dinding dan langit-langit penuh stalagtit dan stalagmit yang indah sekali. Kami menelusuri lika-liku Goa dari yang sempit sampai yang luas dan mentok sampai diujung sungai yg berbentuk air terjun sempit sehingga kami tidak melanjutkan lagi perjalanan. Lalu kami keluar lagi di sore hari kembali ke basecamp, membersihkan alat-alat (carabiner, tali, helm, senter, sepatu boat), makan dan istirahat.

Hari ketiga, kami menuju goa Jumbleng yang lumayan jauh dari basecamp.
Kami melewati tempat yang gersang. Setelah sampai pada sebuah sumur dengan diameter 60-an meter, aku ternganga...ini mau apa disini? Ternyata kami harus menuruni sumur tersebut.Dalamnya sumur lebih dari 25 meter. Kedalaman tersebut kami tempuh 2 tahap karena kami menemukan teras di tengah kedalaman. Pertama yang turun adalah Mas Petrus diikuti Izal, Aku, Dewi dan Himawan. Awalnya Dewi tidak mau turun, dia merajuk menangis..tapi jika dia tidak turun maka akan ditinggal sendirian di atas sampai kami selesai menelusuri goa yang kami tidak tahu lamanya. Akhirnya Dewi ikut turun dan Masya Alloh....aku terbengong takjub atas kebesaran Allloh swt di bawah sumur masih ada lubang mendatar yang sangat besar menuju sebuah jurang yang dalam yang kamipun tidak tahu dalamnya lagi. Luasnya gua ini mampu menampung sebuah helikopter yang bersembunyi, kami berjalan diatas stalagmit yang indah berwarna kuning mengkilat. Aku menduga dahulu pada masa perang kemerdekaan tempat ini merupakan basecamp para gerilyawan. Setelah puas membuat laporan dan mengamati, kamipun menuju jalan pulang. Sesampainya kami di basecamp sudah malam hari sehingga kami langsung bersih-bersih, makan dan istirahat.

Hari keempat, kami membersihkan dan menjemur semua peralatan agar siap dipacking dan dibawa pulang.
Setelah dhuhur kami menuju Yogyakarta, mampir di sodara Dewi. Pasangan motor berubah, aku bareng Dewi, Izal dan Himawan, Mba Titik tetap dengan Mas Iting dan Petrus juga sendiri. Sesampai di Pasar Wonosari, aku sempat salah arah menuju jalan yang satu arah berkebalikan sehingga aku di stop oleh polisi, tapi aku bernegosiasi bahwa aku bukan orang Yogya tapi mahasiswa UNDIP yang sedang perjalanan dan kebetulan plat motorku P sehingga tidak tahu jalan. Alhamdulillah Pak Polisi mengijinkan aku berbalik arah dan menunjukkan jalan yang benar.

Sampai di Semarang sekitar jam 19.00 langsung menuju kosku dan disambut dengan kemarahan Deasy. Hehehe.....Deasy Emalia adalah temen sekamarku, temen seangkatan di Fisika Undip dan kemarahannya dipicu oleh kecemburuannya aku caving bareng Izal. Ya elah.....aku ga kepikiran punya pacar seangkatan apalagi tabu pacaran dalam Islam. Dah ah...tutup ceritanya.

Jumat, 22 Februari 2008

Kisah Sesendok Madu

Foto Puisi Cantik dari Rijal Jalal
Menurut cerita, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya.
Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota.
Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah namanya Fulan); terlintas cara untuk mengelak perintah tersebut.

"Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air tidak akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota."Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi?Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air!Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan.Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat.Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.
Foto Puisi Cantik dari Rijal Jalal
Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai denganpembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)
Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri,dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)Perhatikanlah kata-kata : "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri".Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudiansusulkanlah keluargamu" Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu.Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh dengan madu, bukan air, apalagi racun.(Dari : Lentera Hati, M Quraish Shihab)